Saturday, February 9, 2013

Kecerdasan Emosi


C. Kecerdasan Emosi
1. Pengertian Kecerdasan Emosi
            Memahami dan mengatur emosi diri sendiri membantu kompetensi social anak, kemampuan mereka untuk akur dengan orang lain. Hal ini membantu mereka dalam mengatur perilaku dan membicarakan tentang perasan-perasan mereka (Garner & Power, dalam Papalia, 2001). Anak dapat membicarakan mengenai perasaan-perasaan mereka dan sering kali dapat melihat perasaan orang lain, mereka juga memahami bahwa emosi berkaitan dengan pengalaman dan keinginan (Saarni, dalam Papalia, 2001).


Kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mengelola diri sendiri dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain secara positif.  Istilah kecerdasan emosional pertama kali dicetuskan pada tahun 1990 oleh Psikolog Salovery dan John Mayer untuk menerapkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan seseorang. Kualitas-kualitas tersebut antara lain empati, mengungkap dan memahami perasaan orang lain, mengendalikan amarah diri, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi atau pribadi, ketekunan, kesetiakawanan dan sikap hormat (dalam Shapiro, 1997).
Menurut Stanberg & Salovery (dalam Shapiro, 1997) kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannnya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Salovey dan Mayer (dalam Melandy dan Aziza ; 2006) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
            Selanjutnya, menurut Cooper dan Sawaf (1999) kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koreksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Dimana kecerdasan emosi juga merupakan kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan untuk membangun produktif dan meraih keberhasilan. (Setyawan, 2005)
Patton (2002) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kekuatan dibalik singasana kemampuan intelektual. Shapiro (1997) berpendapat bahwa kecerdasan emosional tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan sehingga membuka kesempatan bagi orang tua untuk mendidik lebih besar meraih keberhasilan. Selanjutnya Dameria (dalam Shapiro, 1997) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, mengolah emosi baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain dengan tindakan konstruktif yang mempromosikan kerjasama sebagai tim yang mengacu pada produktifitas dan bukan pada konflik. Reuven Bar-On (dalam Stein dan Book, 2002) mengemukakan bahwa kecerdasan emosi adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan kognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk dapat berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Kecerdasan emosi juga ditandai oleh kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain.
Menurut Davies dkk dalam Casmini (2007:17) menjelaskan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan lainnya, dan menggunakan emosi tersebut untuk menuntun proses berfikir serta perilaku seseorang. Kemampuan ini merupakan kemampuan yang unik yang terdapat dalam diri seseorang, sehingga hal ini merupakan suatu yang amat penting dalam kemampuan psikologis seseorang.
Menurut Wibowo (dalam Melandy dan Aziza ; 2006) kecerdasan emosional adalah kecerdasan untuk menggunakan emosi sesuai dengan keinginan, kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak yang positif. Sedangkan menurut Goleman (dalam Melandy dan Aziza ; 2006) kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Goleman mendefinisikan bahwa kecerdasan emosi adalah suatu kemampuan seseorang yang didalamnya terdiri dari berbagai kemampuan untuk dapat memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan impulsive needs atau dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan maupun kesusahan, mampu mengatur reactive needs, menjaga agar bebas stress, tidak melumpuhkan kemampuan berfikir dan kemampuan untuk berempati pada orang lain, serta adanya prinsip berusaha sambil berdoa.


Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi, kemampuan mengenali emosi diri dalam mengenali perasaan, dan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mengelola diri sendiri dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain secara positif.
2. Ciri-ciri Individu dengan Kecerdasan Emosi Tinggi dan Rendah
            Steven Hein (Goleman, 2002) membedakan individu dengan kecerdasan emosional tinggi dan rendah. Ia juga mengkarakteristikkan orang yang memiliki Emotional Intelligence tinggi dan rendah atas ciri yang khas, yaitu :
a.       Ciri-ciri individu dengan tingkat Emotional Intelligence yang tinggi :
1)      Mampu untuk melabelkan perasaannya daripada melabelkan perasaan orang lain ataupun situasi.
2)      Mampu membedakan mana yang pikiran dan mana yang merupakan rasa.
3)      Bertanggung jawab terhadap rasa.
4)      Menggunakan rasa mereka untuk membantu dalam membuat suatu keputusan.
5)      Respek terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain.
6)      Berupaya untuk memperoleh nilai-nilai positif dari emosi yang negatif.
7)      Tidak bertindak otoriter, menggurui ataupun memerintah.



b.      Ciri-ciri individu dengan tingkat Emotional Intelligence yang rendah :
1)      Tidak berani bertanggung jawab terhadap rasa yang dimiliki, tetapi lebih menyalahkan orang lain terhadap hal yang terjadi pada dirinya.
2)      Cenderung menyerang, menyalahkan, dan menilai orang lain.
3)      Merasa tidak nyaman berada disekitar orang lain dan kurang memiliki rasa empati.
4)      Cenderung kaku, kurang fleksibel, cenderung menyatakan tidak ada pilihan lain.
5)      Pesimistis dan cenderung menganggap dirinya ini adil.
6)      Sering merasa kurang dihargai, kecewa, hambar atau merasa jadi korban.
Uraian di atas menunjukkan bahwa adanya perbedaan tingkat emotional intelligence dalam diri seseorang. Masing-masing individu mempunyai emotional intelligence yang berbeda-beda, ada yang memiliki tingkat emotional intelligence yang tinggi dan tingkat emotional intelligence yang rendah. Individu tertentu menunjukkan perbedaan emotional intelligence dengan sikap mereka dalam masalah yang mereka hadapi.
3. Aspek-aspek Kecerdasan Emosi
Kecerdasan Emosi dapat diukur dari beberapa aspek-aspek. Goleman (2001) mengemukakan lima kecakapan dasar dalam kecerdasan Emosi, yaitu:
a.       Kesadaran diri (Self-Awareness) : yaitu mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
b.      Pengaturan diri (Self-Regulation) : yaitu menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu segera pulih kembali dari tekanan emosi.
c.       Motivasi (Motivation) : yaitu menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
d.      Empati (Emphaty) : yaitu merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.
e.       Keterampilan Sosial (Social Skill) : yaitu menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan – keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dalam tim.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai aspek-aspek kecerdasan emosi yaitu adanya kesadaran diri (Self-Awareness), pengaturan diri (Self-Regulation), motivasi (Motivation), empati (Emphaty), dan keterampilan Sosial (Social Skill).

No comments:

Post a Comment

saling membangun menuju arah yang lebih baikl