Saturday, February 9, 2013

Pengertian Depresi


2. Depresi
a. Pengertian Depresi
            Depresi merupakan kondisi emosional yang ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan. Sebagaimana sebagian besar dari kita mengalami kecemasan. Depresi sering kali berhubungan dengan berbagai masalah psikolgis lain, seperti serangan panik, penyalahgunaan zat, dan gangguan kepribadian (Davison dkk, 2006).      
            Depresi  juga merupakan salah satu diantara bentuk sindrom gangguan-gangguan keseimbangan mood (suasana perasaan). Mood adalah kondisi perasaan yang terus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita. Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks peristiwa atau situasi yang penuh tekanan. Namun orang dengan gangguan mood (mood disorder) yang luar biasa parah atau berlangsung lama dan mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggung jawab secara normal (Semium, 2006).
            Rathus (1991 dalam Lumongga, 2009: 13) menyatakan orang dengan depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi fungsional, serta kognisi. Menurut Atkinson (1991 dalam Lumongga, 2009: 13) depresi sebagai suatu gangguan suasan hati yang dicirikan dengan tak ada harapan      dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan, tidak mampu konsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang, dan mencoba bunuh diri.
            Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah dipaparkan para tokoh tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa depresi merupakan gangguan suasana hati yang ditandai oleh kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan suatu perasaan dimana dia mengalami gangguan perasaan yang terus mengikuti secara nyata yang membuat orang tersebut menjadi hilang akal dan pikiran yang diawali dengan hilangnya kegairahan hidup dan rasa putus asa dan jika tidak ada yang bisa memberi solusi maka orang tersebut bisa mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
b. Faktor Penyebab Depresi
            Menurut Nevid dkk (2003) Faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk terjadi depresi meliputi :

1) Usia
Depresi mampu menjadi kronis apabila depresi muncul untuk pertama kalinya pada usia 60 tahun keatas. Berdasarkan hasil studi pasien lanjut usia yang mengalami depresi diikuti selama 6 tahun, kira-kira 80% tidak sembuh namun terus mengalami depresi atau mengalami depresi pasang surut.
2) Status sosioekonomi
     Orang dengan taraf sosioekonomi yang lebih rendah memiliki resiko yang lebih rendah memiliki resiko yang lebih besar  dibanding mereka dengan taraf yang lebih baik.
3) Status pernikahan
     Berlangsungnnya pernikahan membawa mamfaat yang lebih baik bagi kesehatan mental laki-laki dan perempuan. Pernikahan tak hanya melegalkan hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan, karena ikatan suami-istri ini juga dipercaya dapat mengurangi risiko mengalami depresi dan kecemasan. Namun, bagi pasangan suami istri yang gagal membina hubungan pernikahan atau ditinggalkan pasangan karena meninggal, justru akan memicu terjadinya depresi.
            Hasil penelitian para ilmuwan di New Zealand’s University of Otago baru-baru ini. Studi yang dipimpin oleh Kate Scott ini meneliti 34.493 orang yang tersebar di 15 negara. Dalam studi ini diketahui bahwa berakhirnya hubungan suami-istri karena perceraian atau kematian dapat meningkatkan risiko mengalami gangguan kesehatan mental. Dari sini terlihat bahwa fakta yang juga sesuai dengan hasil survey dari WHO World Mental Health (WMH) itu menjelaskan bahwa kesehatan mental bagi seseorang yang tidak pernah menikah dibandingkan dengan mereka yang mengakhiri pernikahan. Scott mengatakan dalam studi itu diketahui bahwa meniah memberikan dampak lebih baik ketimbang tidak menikah bagi kesehatan jiwa untuk sema gender (Rachmanto, 2010)
4) Jenis Kelamin
     Menurut Schimeilpfering (2009), beberapa faktor risiko yang telah dipelajari yang mungkin bisa menjelaskan perbedaan gender dalam prevalensi depresi :
a) Perbedaan hormon seks
   Mengingat bahwa puncak onset gangguan depresi pada perempuan bertepatan dengan reproduksi tahun (antara usia 25 sampai 44 tahun usia), faktor resiko hormone mungkin memainkan peran. Estrogen dan progesterone telah ditunjukkan untuk mempengaruhi neurotransmitter, neuroendokrin, dan sistem sirkadian yang telah terlibat dalam gangguan suasana perasaan. Fakta bahwa perempuan sering mengalami gangguan suasana hati yang berhubungan dengan siklus menstruasi mereka, seperti gangguan pramenstruasi dysphoric, juga menunjukkan hubungan antara hormon seks wanita dan suasana perasaan. Selain itu, fluktuasi hormon yang berhubungan dengan kelahiran adalah pemicu umum bagi gamguan suasana perasaan.
b) Perbedaan gender sosialisasi
Para peneliti telah menemukan bahwa perbedaan gender dalam sosialisasi dapat memainkan peran juga. Gadis kecil disosialisasikan oleh orang tua dan guru untuk memelihara dan sensitif terhadap pendapat orang lain, sementara anak laki-laki didorong untuk mengembangkan kesadaran yang lebih besar penguasaan dan kemandirian dalam kehidupan mereka. Jenis sosialisasi berteori mengarah pada depresi pada wanita lebih besar, yang harus melihat keluar diri mereka untuk validasi.
c) Perbedaan gender dalam menghadapi masalah
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung menggunakan emosi yang lebih fokus, ruminative mengatasi masalah, merenungkan masalah mereka ke dalam pikiran mereka, sementara laki-laki cenderung menggunakan masalah yang lebih fokus, gaya coping mengganggu untuk membantu mereka melupakan masalah. Telah dihipotesis bahwa mengatasi gaya ruminative ini bisa mengakibatkan lebih lama dan lebih parah episode depresi dan berkontribusi lebih besar perempuan kerentanan terhadap depresi.
            Dengan demikian wanita memiliki kecenderungan hamper dua kali lipat lebih besar daripada pria untuk mengalami depresi. Meski terdapat perbedaan gender pada prevalensinya, wacana depresi adalah sama untuk keduanya. Pria dan wanita untuk gangguan tersebut tidak berbeda secara signifikan dalam hal kecenderungan untuk kambuh kembali, frekuensi kambuh, keparahan/durasi kambuh atau jarak waktu untuk kambuh yang pertama kalinya (Nevid dkk, 2003).
c. Aspek-aspek Depresi
            Depresi terdiri dari beberapa aspek (Nevid dkk, 2003: 230), yaitu:                                                   1) Perubahan pada kondisi emosional
Perubahan pada kondisi mood (periode terus menerus dari perasaan terpuruk, depresi, sedih atau muram). Penuh dengan air mata atau menangis serta meningkatnya iritabilitas (mudah tersinggung), kegelisahan atau kehilangan kesadaran.
2) Perubahan dalam motivasi
     Perasaan tidak termotivasi atau memiliki kesulitan untuk memulai (kegiatan) di pagi hari atau bahkan lebih sulit bangun dari tempat tidur. Menurunnya tingkat partisipasi sosial atau minat pada aktivitas sosial. Kehilangan kenikmatan atau minat dalam aktivitas yang menyenangkan. Menurunnya minat pada seks serta gagal untuk berespon pada pujian atau reward.
3) Perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik
     Gejala-gejala motorik yang dominan dan penting dalam depresi adalah retardasi motor yakni tingkah laku motorik yang berkurang atau lambat, bergerak atau berbicara dengan lebih perlahan dari biasanya. Perubahan dalam kebiasaan tidur (tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya dan merasa kesulitan untuk tidur kembali). Perubahan dalam selera makan (makan terlalu banyak atau sedikit). Perubahan dalam berat badan (bertambah atau kehilangan berat badan). Beraktivitas kurang efektif atau energik dari pada biasanya, orang-orang yang menderita depresi sering duduk dengan sikap yang terkulai dan tatapan kosong tanpa ekspresi.
4) Perubahan kognitif
     Kesulitan berkonsentrasi atau berfikir jernih. Berfikir negatif mengenai diri sendiri dan masa depan. Perasaan bersalah atau menyesal mengenai kesalahan dimasa lalu. Kurangnnya self-esteem atau merasa tidak kuat. Berpikir kematian atau bunuh diri.
            Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perasaan emosional sangat mempengaruhi kestabilitasan mood atau suasana hati yang bisa mengubah seseorang menganggap dirinya jadi tidak berharga, karena kurangnya afeksi dari orang terdekat mereka.

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment

saling membangun menuju arah yang lebih baikl